Rabu, 6 Julai 2011

UKHUWAH BERPAKSIKAN IMAN

Nurul Ashikin | 4:36 PTG |
Sebuah cerita tentang ukhuwah
+++
Suatu hari, ketika Badar mulai sunyi daripada huru hara peperangan yang akhirnya mengoyak kejahatan dan memenangkan kebenaran, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf mengiring lelaki tampan dan ranggi yang terbelenggu itu. Dia membawa lelaki itu dengan berhati-hati dan lembut tanpa melepaskan genggaman pada ikatannya. Mereka menuju ke arah lelaki yang berwajah mirip dengan si tawanan. 
Sangat mirip. 
‘Abdurrahman ibn ‘Auf mengangguk ta’zhim pada lelaki itu, 
“Assalamual’aika Ya Mush’ab yang baik. Inilah saudaramu, Abu ‘Aziz!"
Mush’ab ibn ‘Umair menjawab salam dan membalas aggukan dalam-dalam. 
Si tawanan, Abu ‘Aziz ibn ‘Umair disergap lega. Syukurlah, dia akan diserahkan pada abang yang disayanginya. Betapa setelah melalui satu mimpi buruk hari ini; mengikuti perang Badar, menyaksikan darah bersimbah ruah, tumbangnya kejayaan Quraisy di tangan orang-orang Bani Najjar, dan kini tertawan; sungguh menyakitkan. Kini dia berada di hadapan abang yang telah bertahun-tahun tak dijumpainya. Dia rindu. 
Tetapi, Mush’ab tidak memandang ke arahnya, tidak segera memeluk menyambutnya, dan seakan tidak hendak menanggalkan belenggu pengikatnya. Mush’ab terus menundukkan kepalanya dan berkata kepada ‘Abdurrahman, 
“Tahanlah dia. Kuatkan ikatanmu, dan eratkan belenggumu.. Sesungguhnya dia memiliki seorang ibu yang sangat menyayangi dan memanjakannya. Insya-Allah engkau akan mendapat tebusan yang berharga darinya, Saudaraku!” 
Abu ‘Aziz terkejut. 
“Apa? Aku tidak percaya ini! Engkau hai Mush’ab. Saudaraku sendiri, engkau menjualku dan membiarkannya meminta tebusan besar pada ibu kita? Di mana cintamu pada adikmu ini hai Saudaraku?” 
Dia meronta. 
Mush’ab memalingkan wajahnya.
Ada kilau di matanya.
Dihelanya udara panjang-panjang ke dalam dada. 
“Tidak! Engkau bukan saudaraku. Dia inilah saudaraku.. Dia inilah saudaraku!” 
+++
Ukhuwah. Persaudaraan di atas dasar iman. 
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” 
[QS al-Hujurat, 49:10] 
Ikatan persaudaraan antara mukmin dalam ayat ini digambarkan oleh Allah dengan kata “ikhwat”. Mushthafa Al-Maraghi menyatakan dalam tafsirnya bahawa “ikhwat” berarti persaudaraan senasab, ayahnay adalah Islam dan ibunya adalah iman. Mereka bersaudara sekandung, dari rahim iman. 
“Kata ini lebih kuat dari kata ‘ikhwan’ yang bermakna persaudaraan dalam persahabatan.” 
[Mushthafa Al-Maraghi] 
“Seorang mukmin dengan mukmin yang lain adalah saudara, ‘ikhwat’ dalam agama, dan dihimpunkan dalam asal yang satu, iaitu iman.” 
[Dr. Wahbah Az-Zuhaily] 
Seperti yang dialami Mush’ab, persaudaraan iman jauh lebih kuat, mengalahkan persaudaraan nasab. Dan bahkan persaudaraan nasab seolah tiada, hampa dan tidak bernilai, jika tiada aqidah yang mengikat hati mereka pada satu keyakinan yang sama. 
+++ 
Imanlah yang mengikat hati-kati kita. 
Seandainya ada di antara kita yang hatinya masih lagi terpaut kepada sesuatu selain iman, maka dia akan terkeluar dari ukhuwah bersama mereka yang mengikatnya atas dasar iman. 
Atas dasar mencari dan mengharap redha Allah. 
Muhasabah iman kita. Muhasabah ukhuwah kita.

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan (Dialah) yang menyatu padukan di antara hati-hati mereka (yang beriman itu). Kalaulah engkau belanjakan segala yang ada di bumi, nescaya engkau tidak dapat juga menyatu padukan di antara hati mereka, akan tetapi Allah telah menyatu padukan di antara (hati) mereka. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.” 
[QS Al-Anfal, 8:63]
"terharu akan kemanisannya"
khir al-imtiaz
0559pm
30-06-2011
http://mohamadkhirjohari.blogspot.com/2011/06/ukhuwwah-berpaksikan-iman.html#more

Comment With:
OR
The Choice is Yours!

Tiada ulasan:

Apesal.com